premiumtix.net

premiumtix.net – Dalam konteks perubahan iklim dan variabilitas cuaca tahunan, musim kemarau 2024 di Indonesia diperkirakan akan mengalami peningkatan intensitas. Berbeda dengan tahun sebelumnya, musim ini diperkirakan tidak akan dipengaruhi oleh fenomena El Nino, yang sering kali memperburuk kondisi kekeringan.

Komunikasi dengan Kepala Negara:
Dwikorita Karnawati, selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), telah menginformasikan Presiden Joko Widodo mengenai potensi terjadinya musim kemarau yang berkepanjangan di beberapa wilayah, berdasarkan analisis terkini. Surat yang dikirimkan pada tanggal 27 Mei tersebut memaparkan data dan analisis yang menunjukkan adanya indikasi awal masuknya musim kemarau, khususnya di wilayah selatan Khatulistiwa.

Detail Laporan BMKG:
Laporan BMKG yang berjudul ‘Prediksi Musim Kemarau Tahun 2024 di Indonesia’ mengindikasikan bahwa sekitar 167 Zona Musim (ZOM) atau 23,89% dari total wilayah Indonesia akan memasuki fase kemarau pada Juni. Kriteria awal musim kemarau yang diterapkan BMKG meliputi pengukuran curah hujan kurang dari 50 milimeter selama satu dasarian (10 hari), yang diikuti oleh rendahnya curah hujan pada dua dasarian berikutnya.

Pengamatan Indeks NINO 3.4:
Dalam periode pengamatan dari 30 Mei hingga 1 Juni 2024, indeks NINO 3.4 mencatat nilai +0,28. Nilai ini dikategorikan sebagai netral dan tidak memberikan indikasi signifikan terhadap peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia.

Pemaparan Dalam Konferensi Pers:
Dalam konferensi pers yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei, Dwikorita Karnawati menyampaikan bahwa tidak ada indikasi terjadinya El Nino selama musim kemarau ini. Beliau menjelaskan bahwa, meskipun beberapa wilayah seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara diperkirakan akan mengalami penurunan curah hujan, kondisi tersebut tidak seberat ketika terjadi El Nino.

Diskusi Mengenai La Nina:
Lebih lanjut, Dwikorita menambahkan bahwa ada kecenderungan terjadinya La Nina, yang merupakan fenomena berkebalikan dengan El Nino, meskipun kecenderungan ini masih dalam tahap prediksi awal. “Kita belum dapat menyimpulkan dengan pasti akan terjadinya La Nina, namun terdapat tren yang mendukung ke arah tersebut,” ujar Dwikorita.

El Nino dan La Nina adalah bagian dari fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO), yang berdampak pada perubahan suhu permukaan laut di region Pasifik tropis tengah dan timur. Terkini, pengamatan menunjukkan adanya penurunan suhu permukaan laut sejak Desember 2023, yang dapat mempengaruhi dinamika cuaca global, termasuk di Indonesia.

Analisis dan prediksi BMKG mengenai musim kemarau 2024 menunjukkan pentingnya pemahaman mendalam tentang pola cuaca dan iklim untuk mengantisipasi dan mengelola potensi risiko yang dapat timbul dari kondisi iklim ekstrem.